Jerawat Hormon vs Jerawat Bakteri: Bagaimana Cara Membedakan

cara membedakan jerawat hormon

Cara membedakan jerawat hormon dan jerawat bakteri diperlukan karena kedua jerawat ini seringkali sulit untuk dibedakan. Padahal jerawat hormon dan jerawat bakteri merupakan dua jenis jerawat berbeda. Cara mengatasi kedua jenis jerawat ini juga berbeda. Berikut adalah serba-serbi jerawat hormon dan jerawat bakteri, serta cara mengatasinya.

Jerawat hormon muncul ketika terjadi fluktuasi hormon di dalam tubuh. Naik turunnya hormon dipengaruhi oleh berbagai kondisi, mulai dari ovulasi, menstruasi, kehamilan, menopause, hingga PCOS atau sindrom ovarium polikistik.

Wujud dari jerawat hormon umumnya berwarna merah dan bertekstur lunak, serta muncul di area wajah bagian bawah, seperti rahang, dagu, leher, atau pipi. 

Dokter Spesialis Kulit Amerika Serikat, dr. Azadeh Shirazi mengungkapkan proses munculnya jerawat hormon di wajah. 

“Jerawat hormon disebabkan oleh kondisi kulit yang mengalami lonjakan hormon androgen. Hormon androgen ini, merangsang kelenjar minyak. Akibatnya produksi minyak menjadi berlebihan, kemudian bakteri penyebab jerawat berkebang biak dengan mudah, dan berujung pada penyumbatan pori-pori.”

Sedangkan, jerawat bakteri muncul akibat pertumbuhan bakteri yang berlebihan di wajah. Sehingga, produksi sebum meningkat kemudian terjadilah pembengkakan.

Dokter Azadeh Shirazi juga menjelaskan, kemunculan jerawat bakteri disebabkan oleh reaksi inflamasi di sekeliling pori-pori dan folikel rambut. Reaksi inflamasi ini terjadi akibat ketidakseimbangan pada perkembangan organisme jamur dan bakteri alami kulit.

Jerawat Hormon vs Jerawat Bakteri: Cara Membedakan

Untuk mengetahui cara membedakan jerawat hormon dan jerawat bakteri adalah memperhatikan ciri-cirinya. Jika jerawat selalu muncul di area tertentu selama siklus menstruasi atau disaat ketidak seimbangan hormon terjadi, maka kemungkinan besar itu adalah jerawat hormon. 

Sedangkan jerawat bakteri merupakan jerawat yang terbentuk akibat jerawat hormon yang telah mengalami keparahan karena berlebihannya pertumbuhan bakteri wajah. Jerawat bakteri diawali dengan bentuk komedo kemudian bertumbuh menjadi benjolan yang menyerupai kista dan menghalangi folikel rambut. 

Namun, cara terbaik untuk menentukan jenis jerawat apa yang sedang Anda alami adalah dengan menemui dokter spesialis kulit. Pemeriksaan menyeluruh, disertai dengan analisa riwayat kesehatan oleh dokter spesialis kulit dapat menentukan jenis jerawat dan pengobatannya secara lebih akurat.

Mengatasi Jerawat Hormon

Terdapat beberapa opsi yang dapat dilakukan untuk mengatasi jerawat hormon, 

  • Mengonsumsi Pil KB
  • Mengonsumsi Spironolakton
  • Rutin Melakukan Perawatan Kulit
  • Menggunakan Pelembab
  • Menggunakan Produk Non Komedogenik
  • Melakukan Perawatan Topikal
  • Memperbaiki Gaya Hidup

Selain mencegah kehamilan, konsumsi pil KB dan spironolakton dapat menstabilkan kadar hormon dan mengurangi hormon testosteron. Dokter spesialis kulit akan meresepkan pil KB untuk mengatasi jerawat dan memperbaiki siklus menstruasi.

“Spironolakton dapat mengatasi jerawat hormonal dengan cara merangsang produksi minyak, sehingga pori-pori tersumbat yang menimbulkan jerawat berkurang,” ungkap dr. Azadeh.

Namun, tidak semua orang cocok menggunakan pil KB untuk mengatasi jerawat. Bukannya memperbaiki, konsumsi pil KB justru memperburuk jerawat. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memilih pengobatan jerawat.

Rutin melakukan perawatan kulit disertai dengan pengaplikasian pelembab dan menggunakan produk-produk non komedogenik juga dapat mengatasi pori-pori tersumbat penyebab jerawat. 

Sebelum melakukan upaya pencegahan jerawat hormon, pastikan untuk mengatasi jerawat hormon terlebih dahulu. Jerawat hormon dapat diatasi dengan menggunakan produk perawatan topikal yang disertai dengan perbaikan gaya hidup agar lebih sehat.

Mengatasi Jerawat Bakteri

Perlu diketahui bahwa perawatan untuk mengatasi jerawat bakteri sedikit berbeda dengan jerawat hormonal. Penggunaan produk perawatan kulit berbahan benzoil peroksida, retinoid, dan antibiotik dapat mengatasi jerawat bakteri. 

Benzoil peroksida merupakan antiseptik yang mampu membasmi bakteri dan menghilangkan penyumbat pori. Sedangkan, retinoid merupakan bahan aktif yang dapat mencegah dan mengatasi peradangan pada jerawat. Retinoid juga membantu kulit untuk meregenerasi sel, menghilangkan penyumbat pori, membunuh bakteri penyebab jerawat, dan mengurangi produksi minyak berlebih.

Akantetapi, seluruh perawatan jerawat, baik itu jerawat hormonal maupun jerawat bakteri sebaiknya dilakukan berdasarkan saran dokter spesialis kulit.

2 Comments

Comments are closed.